Rantau Pejuang
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Rantau Pejuang

Sabtu, 29 November 2014




Alhmdulillah syukur panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan pencipta alam yang telah memberikan Rahmat serta Hidayahnya kepada kita semua. Allah telah menitipkan banyak kisah perjalanan hidup kepada kita yang sampai sekarang semua kisah itu banyak tertulis dalam bentuk buku, novel ataupun teladan.
Terimakasih kepada orang terdekat yang terus mendukung penulisan Rantau Pejuang, buku pertama dari kisah perjalanan seorang anak yang mencari jati diri akan dirinya.
Mamak, begitulah saya menyebutnya pemilik rahim tempat saya bersandar selama sembilan bulan, pemilik kasih sayang tiada batas bilangan bulan dan tahun. Tanpa mamak, tentulah awal kisah menginspirasi tidak ada.
Dia, sebagai belahan jiwa saya,  yang menjadi teman tangguh dan cerdas dalam mendayung hidup. Sepulang sekolah dia selalu menjadi sarana merebahkan segala unek- unek yang ada dalam fikirang dan keadaan say.












Bukankah hari terus berjalan
Tetaplah jadi manusia, apa pun yang terjadi j
anganlah galau dengan tiap kejadian sehari- hari
karena tak ada yang abadi, semua kan datang dan pergi jadilah pemberani melawan rasa takutmu
pemberani bukanlah orang yang mampu memecahkan kaca
menghancurkan gedung, merusak fasilitas publik, merusak anak orang, menyiksa diri sendiri
pemberani mampu meyakini dengan apa yang dia mampu melakukan dengan apa yang dikatakan oleh hati dengan dasar- dasar pasti lakukan apa yang ingin kalian lakukan,
selagi itu tidak mengganggu kenyamanan orang lain
jadilah manusia yang bermanfaat dan bermanfaat bagi umat.
Merantaulah gapai cita- cita setinggi yang kau inginkan
Yakinkan dirimu bahwa kamu mampu untuk melakukannya
Jamgan takut, percaya diri maju pantang menyerah dengan apa yang akan terjadi.
Kaulahs ang sang pejuang petualan sejati.








1
Pakaian Rombeng
Aku tancapkan kunci tergesa dan ku buka pintu itu tergesa- gesa.
Macet. Tidak beringsut. Hanya anak- anak kunci lain yang
Bergoyang bergenting- genting terdengar indah nada dari kunci kunci itu
aku bingung harus melakukan apa untuk membuka pintu itu melakukan segala cara
untuk melakukannya sudah kulakukan baju ku sudah seperti pakaian rombeng
yang tidak jelas bentuknya aku pun berlari mencari persaudaraan disana untuk ku
meminta bantuan kepadanya tentang apa yang aku lakukan saat itu
menjadi hal yang indah saat itu dengan pakaian rombeng yang tertempel
dibadanku menjadikan aku pusat perhatian masyarakat sekitar
sambil bercengkrama apa sudah tidak waras lagi itu zain
sapaanku ditengah masyarakat yang masih memegang teguh budaya kekeluargaan
‘kepedulian yang masih sangat erat terjalin disana, keindahan tumbuhan dan
Sayup- semayup angin yang masih terdegnar begitu menenangkan hati
Itulah kampug dimana aku sang anak yang mungil yang begitu lincah
Yang terkadang dibilang anak yang tidak tau capek karena
berangkat sekolah berlari seperti halnya burung gagak yang yang tak mempunyai sangkar beristirahat
akulah zain yang ingin selalu bergerak, disekolah aku adalah anak yang rajin mengerjai kanco- kanco untuk membuat kegaduhan didalam ruang kelas, sampai guru wali kelas 1 ku meluncurkan jurus andalan telingaku yang begitu menawan menggoda ibu wali kelas untuk memegang dan menariknya dengan penuh kejengkelan tapi disertai dengan senyuman kasih sayang, teringatb saat ia berkata zain jangan kayak gitu lagi ya nanti gak pinter- pinter lho..... ujar ibu manis wali kelas ku
aku pun terdiam dan menatapnya sambil melakukan jurus andalan yaitu senyuman mesra kepada ibu manis. Pelajaran ibu manis pun dimulai aku disuruh untuk mewakili temen- temen pimpin do’a karena walaupun akau sedikit bandel di kelas tapi aku salah satu anak yang masih memegang teguh budaya membaca Al- Qur’an dengan belaian masnis tangan mamak ku aku dilatih satu demi satu huruf di Al- Qur’an mamak ku adalah seorang bidadari yang di utus oleh Allah untuk menjadi ibuku karena dengan belaian tangan lembut ibuku aku menjadi anak yang periang walaupun kalau disekolahan aku sering membuat para ibu manis dan bapak guru unyu- unyu sedikit tepuk kepala tapi. ..... aku yang mereka kira anak yang nakal, tapi gokil itulah zain anak kelas satu Madrasah Ibtidaiyah lengkapnya Erfan Zain itulah nama saya yang lengkap, selama perjalanan menjadi siswa anak kelas satu begitu banyak kawan yang dapat dekat dengan saya karena mereka menganggap saya cukup kompleks untuk menjadi salah satu bahan sandaran mereka disaat mereka membutuhkan ku.penggil saja dia adalah fauzan teman yang berasal dari desa yang sama tapi dari suku yang berbeda banyak kawan yang satu suku dengan ku yang cukup tidak suka dengan yang namanya fauzan karena dia anaknya terlalu banyak melakukan tindakan yang kurang terpuji tapi aku tidak semerta- merta mengambil keputusan untuk menjust dia jelek karena aku yakin dia mempunyai alasan melakukan itu, dia tidak memiliki banyak teman di lingkungan sekolah ku karena notabene disekolahanku rata- rata  mereka adalah sama sukunya dengan saya sehingga teman- teman yang sudah mendapat just dari kalangan masayarakat sekitar tempat saya tinggal sudah sangat sulit untuk menrima keadaan itu, tapi dilain sisi dia adalah salah satu sosok yang cukup asyik untuk melewati hari sifatnya yang kocak dan terkadang tingkahnya yang konyol membuat aku asyik untuk bersamanya salah satu kejadian aneh yang sulit untuk dilupakan saat kita bermain sepak bola sedang asyik kita bermain sepak bola bersama kawan- kawan kampung sebelah yang tadinya permainan berlangsung cukup tegang fauzan yang saat itu menjadi pemain belakang dia menginjak “tletong” sebutan untuk kotoran kerbau lebih parahnya lagi bola yang mau dia tendang tak taunya kena kotoran kerbau juga sampai mengenai muka pemain musuh yang ada di depannya, tak tertahankan lagi semua pemain yang ada disitu tertawa semua sehingga permainan pun menjadi mulai cair... permainan yang mengandung persaingan ketat menjadi indah saat itu semua terjadi, sampai asyiknya bermain sampai lupa dengan apa yang ingin dilakukan.