Alhmdulillah
syukur panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan pencipta alam yang telah memberikan
Rahmat serta Hidayahnya kepada kita semua. Allah telah menitipkan banyak kisah
perjalanan hidup kepada kita yang sampai sekarang semua kisah itu banyak
tertulis dalam bentuk buku, novel ataupun teladan.
Terimakasih
kepada orang terdekat yang terus mendukung penulisan Rantau Pejuang, buku
pertama dari kisah perjalanan seorang anak yang mencari jati diri akan dirinya.
Mamak,
begitulah saya menyebutnya pemilik rahim tempat saya bersandar selama sembilan
bulan, pemilik kasih sayang tiada batas bilangan bulan dan tahun. Tanpa mamak,
tentulah awal kisah menginspirasi tidak ada.
Dia,
sebagai belahan jiwa saya, yang menjadi
teman tangguh dan cerdas dalam mendayung hidup. Sepulang sekolah dia selalu
menjadi sarana merebahkan segala unek- unek yang ada dalam fikirang dan keadaan
say.
Bukankah hari terus berjalan
Tetaplah jadi manusia, apa pun
yang terjadi j
anganlah galau dengan tiap
kejadian sehari- hari
karena tak ada yang abadi, semua
kan datang dan pergi jadilah pemberani melawan rasa takutmu
pemberani bukanlah orang yang
mampu memecahkan kaca
menghancurkan gedung, merusak
fasilitas publik, merusak anak orang, menyiksa diri sendiri
pemberani mampu meyakini dengan
apa yang dia mampu melakukan dengan apa yang dikatakan oleh hati dengan dasar-
dasar pasti lakukan apa yang ingin kalian lakukan,
selagi itu tidak mengganggu
kenyamanan orang lain
jadilah manusia yang bermanfaat
dan bermanfaat bagi umat.
Merantaulah gapai cita- cita
setinggi yang kau inginkan
Yakinkan dirimu bahwa kamu mampu
untuk melakukannya
Jamgan takut, percaya diri maju
pantang menyerah dengan apa yang akan terjadi.
Kaulahs ang sang pejuang
petualan sejati.
1
Pakaian Rombeng
Aku
tancapkan kunci tergesa dan ku buka pintu itu tergesa- gesa.
Macet.
Tidak beringsut. Hanya anak- anak kunci lain yang
Bergoyang
bergenting- genting terdengar indah nada dari kunci kunci itu
aku
bingung harus melakukan apa untuk membuka pintu itu melakukan segala cara
untuk
melakukannya sudah kulakukan baju ku sudah seperti pakaian rombeng
yang
tidak jelas bentuknya aku pun berlari mencari persaudaraan disana untuk ku
meminta
bantuan kepadanya tentang apa yang aku lakukan saat itu
menjadi
hal yang indah saat itu dengan pakaian rombeng yang tertempel
dibadanku
menjadikan aku pusat perhatian masyarakat sekitar
sambil
bercengkrama apa sudah tidak waras lagi itu zain
sapaanku
ditengah masyarakat yang masih memegang teguh budaya kekeluargaan
‘kepedulian
yang masih sangat erat terjalin disana, keindahan tumbuhan dan
Sayup-
semayup angin yang masih terdegnar begitu menenangkan hati
Itulah
kampug dimana aku sang anak yang mungil yang begitu lincah
Yang
terkadang dibilang anak yang tidak tau capek karena
berangkat
sekolah berlari seperti halnya burung gagak yang yang tak mempunyai sangkar
beristirahat
akulah
zain yang ingin selalu bergerak, disekolah aku adalah anak yang rajin mengerjai
kanco- kanco untuk membuat kegaduhan didalam ruang kelas, sampai guru wali
kelas 1 ku meluncurkan jurus andalan telingaku yang begitu menawan menggoda ibu
wali kelas untuk memegang dan menariknya dengan penuh kejengkelan tapi disertai
dengan senyuman kasih sayang, teringatb saat ia berkata zain jangan kayak gitu
lagi ya nanti gak pinter- pinter lho..... ujar ibu manis wali kelas ku
aku
pun terdiam dan menatapnya sambil melakukan jurus andalan yaitu senyuman mesra
kepada ibu manis. Pelajaran ibu manis pun dimulai aku disuruh untuk mewakili
temen- temen pimpin do’a karena walaupun akau sedikit bandel di kelas tapi aku
salah satu anak yang masih memegang teguh budaya membaca Al- Qur’an dengan
belaian masnis tangan mamak ku aku dilatih satu demi satu huruf di Al- Qur’an
mamak ku adalah seorang bidadari yang di utus oleh Allah untuk menjadi ibuku
karena dengan belaian tangan lembut ibuku aku menjadi anak yang periang
walaupun kalau disekolahan aku sering membuat para ibu manis dan bapak guru
unyu- unyu sedikit tepuk kepala tapi. ..... aku yang mereka kira anak yang
nakal, tapi gokil itulah zain anak kelas satu Madrasah Ibtidaiyah lengkapnya
Erfan Zain itulah nama saya yang lengkap, selama perjalanan menjadi siswa anak
kelas satu begitu banyak kawan yang dapat dekat dengan saya karena mereka
menganggap saya cukup kompleks untuk menjadi salah satu bahan sandaran mereka
disaat mereka membutuhkan ku.penggil saja dia adalah fauzan teman yang berasal
dari desa yang sama tapi dari suku yang berbeda banyak kawan yang satu suku
dengan ku yang cukup tidak suka dengan yang namanya fauzan karena dia anaknya
terlalu banyak melakukan tindakan yang kurang terpuji tapi aku tidak semerta-
merta mengambil keputusan untuk menjust dia jelek karena aku yakin dia
mempunyai alasan melakukan itu, dia tidak memiliki banyak teman di lingkungan
sekolah ku karena notabene disekolahanku rata- rata mereka adalah sama sukunya dengan saya
sehingga teman- teman yang sudah mendapat just dari kalangan masayarakat
sekitar tempat saya tinggal sudah sangat sulit untuk menrima keadaan itu, tapi
dilain sisi dia adalah salah satu sosok yang cukup asyik untuk melewati hari
sifatnya yang kocak dan terkadang tingkahnya yang konyol membuat aku asyik
untuk bersamanya salah satu kejadian aneh yang sulit untuk dilupakan saat kita
bermain sepak bola sedang asyik kita bermain sepak bola bersama kawan- kawan
kampung sebelah yang tadinya permainan berlangsung cukup tegang fauzan yang
saat itu menjadi pemain belakang dia menginjak “tletong” sebutan untuk kotoran
kerbau lebih parahnya lagi bola yang mau dia tendang tak taunya kena kotoran
kerbau juga sampai mengenai muka pemain musuh yang ada di depannya, tak
tertahankan lagi semua pemain yang ada disitu tertawa semua sehingga permainan
pun menjadi mulai cair... permainan yang mengandung persaingan ketat menjadi
indah saat itu semua terjadi, sampai asyiknya bermain sampai lupa dengan apa
yang ingin dilakukan.
