Aneh, bahwa
orang yang melakukan bid'ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenan dengan
dzat-Nya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa
dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang
menuruti firman-Nya : "Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah", dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia
adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya),
atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya. Anehnya lagi, ada
orang-orang yang melakukan bid'ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan perbuatannya itu mereka
menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat
sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang
biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid'ah mereka. Aneh, bahwa
orang-orang semacam ini mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan
Rasul-Nya". Padahal dengan bid'ah yang mereka perbuat itu, mereka
sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Senin, 26
Maret 2012 15:13:54 WIB
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Perlu
diketahui bahwa mutaba'ah (mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak
akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari'at dalam
enam perkara. Daintaranya : Pertama. Sebab : Jika seseorang melakukan suatu
ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari'atkan, maka ibadah tersebut
adalah bid'ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh : Ada orang yang melakukan
shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam
itu adalah malam Mi'raj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (dinaikkan ke
atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan
sebab tersebut menjadi bid'ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang
tidak ditetapkan dalam syari'at. Syarat ini -yaitu : ibadah harus sesuai dengan
syari'at dalam sebab - adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui
beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah
bid'ah. Kedua. Jenis : Ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam jenisnya. Jika
tidak, maka tidak diterima. Contoh : Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban
adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari'at dalam jenisnya. Yang
boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing. Ketiga. Kadar (Bilangan) :
Kalau seseorang yang menambah bilangan raka'at suatu shalat, yang menurutnya
hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima,
karena tidak sesuai dengan ketentuan syari'at dalam jumlah bilangan rakaatnya.
Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka'at, umpamanya, maka shalatnya
tidak sah.
Sabtu, 6
Agustus 2011 23:15:23 WIB
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Shalat
tarawih dengan cepat, laksana ayam mematuk makanan. Mayoritas imam masjid
kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari
cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan
shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka
melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al
‘Ala atau Adh Dhuha. Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh
seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya:
"Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah,
kecuali hanya sedikit sekali". Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti
itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, para sahabat dan ulama salaf. Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda. "Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para
Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan
gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru
(bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah
adalah sesat". Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat".
Sabtu, 21
Mei 2011 22:31:26 WIB
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Ihwal
pembicaran tentang ahlul bid’ah, sebenarnya menarik kita untuk menelaah histori
ideologi umat terdahulu, sehingga kita dapat gambaran mereka yang transparan
dalam seluruh aspek kehidupan. Seseorang kadang secara tidak sadar, telah terbelenggu
dalam atmosfer pemikiran atau karakter mereka. Karenanya, perlu sekali kita
menengok sejenak perihal seluk beluk mereka agar tidak terkena getah busuknya.
Kiranya, nasehat Khalifah Umar bin Khaththab perlu kita perhatikan. Beliau
Radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan: “Aku pelajari kejahatan (keburukan) bukan
untuk mengaplikasikannya, namun sebagai perisai diri. Barang siapa yang tidak
mengetahui hakikat kejahatan, maka dia akan terjerumus di dalamnya”. Yahudi dan
Nashara, dua umat masa lampau yang sempat membangun peradaban dan menguasai
dunia. Sehingga sedikit banyak akan menjadi kiblat umat lain. Rasulullah telah
mensiyalir, sebagian umatnya akan mengekor sunnah (gaya hidup) mereka dalam
arti yang luas. Rasulullah bersabda : Kalian benar-benar akan mengikut sunah
(gaya hidup) umat sebelum kalian, sehasta demi hasta, sedepa demi sedepa.
Sampai kalau mereka memasuki lubang biawak pun, kalian akan mengikutinya. Para
shahabat bertanya,” Siapa mereka Ya Rasulullah? Apakah Yahudi dan Nashara?
Beliau bersabda,” Siapa lagi kalau (bukan mereka)”
Kamis, 12
Mei 2011 22:02:35 WIB
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah menciptakan para ulama setelah meninggalnya para nabi dan rasul.
Mereka menunjuki orang tersesat kepada petunjuk dan membuat mereka dapat
melihat kebenaran agama Allah secara benar. Berapa banyak orang yang tertolong
dengan sebab ajaran dan perjuangan dakwah mereka. Alangkah baiknya pengaruh
mereka terhadap masyarakat dan umat ini. Demikianlah tugas para ulama pengemban
ilmu. Mereka harus menjaga agama Islam dan umatnya dari seluruh kesyirikan,
kebid’ahan dan kemaksiatan. Mereka menjaganya dari perpecahan dan kerusakan
akibat hal-hal tersebut. Namun apa yang mereka terima? Cercaan, teror dan
berbagai kecaman datang silih berganti. Mereka dihujat sebagai pemecah belah
umat, peruncing perbedaan umat, suka memfitnah dan segudang tuduhan lainnya.
Itulah segala resiko, dari tugas pengemban ilmu yang mereka peroleh. Mereka
tetap melaksanakan tugas menjaga agama dan umat ini dari perpecahan dan
kehancuran, dengan mencurahkan kasih-sayangnya agar umat ini hidup di bawah
lindungannya. Mereka hentikan para penyesat dan musuh Allah dari kegiatan
pemurtadan dan penyesatan umat, dengan beramar makruf nahi mungkar, mengajak
manusia bertauhid dan menjauhi segala kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan.
Rabu, 1
September 2010 17:01:40 WIB
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Kategori : Bahasan : Bid'ah
Fitnah (kesesatan;
kesalahan) meniru suara para qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) dan
mempraktekkannya di masjid-masjid di hadapan Allah adalah perkara yang dianggap
bid’ah (tambahan) dalam urusan ibadah membaca qur’an . Padahal merupakan suatu
hal yang dimaklumi bahwa hal meniru suara yang qaari’ yang baik bisa dilakukan
pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan pada zaman para sahabat
Radhiyallahu 'anhum, tetapi tidak diketahui adanya di kalangan mereka yang
bertaqaarub (beribadah) kepada Allah dengan meniru-niru suara Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Sehingga dari sini diketahui bahwa perbuatan tersebut tidak
masyru’ (disyari’atkan/diajarkan) sekaligus merupakan sikap mengada-ada dalam
persoalan ibadah. Padahal menurut qaidah syara’ bahwa setiap perkara ibadah
yang diada-adakan adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan. Hal inilah
-pada zaman kita ini- yang membuat banyak orang berdesak-desakan mengerumuni
masjid-masjid yang imamnya mempunyai prinsip seperti di atas (meniru suara para
qaari’ yang terkenal). Sehingga banyak orang pada bulan Ramadhan yang bepergian
dari satu negeri ke negeri lain dengan tujuan shalat tarawih di suatu masjid
yang imamnya mempunyai "suara yang bagus". Coba anda camkan baik-baik
hal ini, betapa terinjak-injaknya Sunnah Nabi tentang larangan "sengaja
bepergian (ke tempat yang dimuliakan-red) kecuali ke tiga masjid: Masjid Haram,
Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha"
